18 Juli 2024
Sejuta Warna, Satu Capaian
Sejuta Warna, Satu Capaian
(Juni
Riyanti)
Satu kelas
bukan satu kepala
Beda minat,
beda gaya, beda kemampuan awalnya
Ingin hasil
maksimal, buatlah berbeda
Murid bukan
mesin yang bisa satu kata satu perintah
Dia yang
selalu mendengar ikutlah gayanya
Dia yang
suka menulis, carilah cara mengenali belajarnya
Dia yang
suka belajar sambil berjalan, tak perlu dilarang
Ingatlah,
satu kelas bukan satu kepala
Sudah
saatnya guru mengubah perkara mengajarnya
Kenali
muridmu, dekatilah maka akan tahu
Satu
materi, seratus cara penyampaian
Satu
materi, seribu aktivitas murid
Satu
materi, sejuta hasil
Duhai guru,
dengarlah kata hatimu
Mengubah
segalanya, mengikuti murid
Itulah
diferensiasi
Semarang,
17 Juli 2024
#CCSIT_Angk.VIII
20 Maret 2019
Membaca Adalah Kebutuhan
Membaca bukan lagi sebuah kewajiban, namun sudah menjadi kebutuhan bagi sebaguan orang.
Membaca Adalah Kebutuhan
Membaca bukan lagi sebuah kewajiban, namun sudah menjadi kebutuhan bagi sebagian orang. Komunitas One Day One Post (ODOP) telah mewujudkan impian para pecinta buku dengan membaca setiap hari.
Selain membaca Reading Challenge ODOP (RCO) juga memberikan tantangan yang harus diselesaikan di setiap levelnya. Kegiatan ini benar-benar mampu menumbuhkan semangat membaca sekaligus menulis. Kegiatan yang berlangsung selama 45 hari ini pun terhitung sangat mantap. Ini tentu saja tidak lepas dari tangan dua orang yang menggawanginya yakni Mas Lutfi dan Mbak Sofia. Terima kasih yang tak terhingga untuk keduanya.
Selanjutnya, pada level terakhir setiap peserta harus membuat tulisan bagi kegiatan RCO berikutnya. Ada berbagai macam harapan yang diberikan oleh setiap peserta. Kegiatan ini sebagai penumbuh semangat membaca harus tetap ada. Bagaimanapun juga tidak akan mampu sesorang menulis tanpa membaca. RCO berikutnya harus lebih seru dengan tantangan-tantangan lain dan waktu yang lebih panjang.
Sosok Ernest Hemingway
Ernest Hemingway, biasa pula disebut Papa. Merupakan pemegang nobel sastra. Karya terpopulernya adalah "Lelaki Tua dan Laut". Membaca novel ini memang butuh kesabaran yang tinggi. Pemaparan yang disampaikan oleh Hemingway terkesan sangat hati-hati. Dengan kata-kata yang sederhana, Hemingway mampu merangkainya menjadi kalimat-kalimat yang sarat akan makna.
Dalam novel tersebut, Hemingway seolah menceritakan keberadaan dirinya ketika seorang diri di tengah laut. Bercerita dengab dirinya sendiri. Dan ditanggapi oleh dirinya sendiri pula. Tak jarang, Dia seolah-olah juga bercerita dengan alam di sekitarnya.
Novelnya Lelaki dan Laut ini memang tipis, namun ketekunan dan kepiawaiannya dalam mengolah kata, mampu membawanya menjadi pemenang nobel sastra.
9 Maret 2019
Ratih Kumala Sang Peramu Senja
Ratih Kumala, lahir di Jakarta, 4 Juni 1980. Ia memperoleh pendidikan dari Fakultas Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Saat ini tinggal bersama suaminya yang juga seorang penulis yakni Eka Kurniawan. Selain sebagai penulis novel dan cerita pendek, ia juga menulis skenario. Beberapa buku yang pernah ditulisnya adalah Tabula Rasa (2004), Larutan Senja (2006),Kronik Betawi (2009) dan Gadis Kretek (2015).
Salah satu bukunya adalah Larutan Senja yang mengisahkan tentang pembuatan senja. Senja di bumi, yang setiap hari datang. Baik dalam keadaan cerah maupun mendung. Ratih Kumala mampu menuliskan sebuah cerita tentang seorang wanita yang menciptakan larutan senja. Lantas berselisih dengan pencipta bumi. Senja yang Ia ciptakan tidaklah berasa manis seperti sore, namun juga tidak pahit seperti malam. Dia pun menciptakan ramuan senja dengan berbagai campuran warna.
Buku tipis yang diberi judul Larutan senja "The Potion of Twilight" ditulis oleh Ratna Kumala dan dialih bahasakan oleh Soe Tjen Marching. Buku ini berisi kumpulan 14 kisah. Lebih banyak menceritakan mengenai sisi romantisme perempuan dan kekuatan magis. Dalam salah satu kisahnya yang berjudul "The Midwife" (Bidan), ada seorang Bidan desa, yang mendapat tantangan dari seorang wanita di desa tersebut. Nastiti nama wanita tersebut. Dia menuduh sang bidan telah membunuh suaminya dengan cara diracun. Sang bidan pun diusir dari desa. Nastiti rupanya masih menyimpan dendam dan berusaha mencari keberadaan sang bidan desa.
Buku yang hanya berisi 124 halaman ini menjadi sebuah cerita dengan tokoh sebagian besarnya adalah wanita. Inilah salah satu kekuatan yang dimiliki buku berjudul asli "Larutan Senja". Penggambaran tokoh yang benar-benar unik, dengan latar yang tidak dapat disangka sebelumnya menjadikannya cerita yang menarik untuk disimak.
Selayaknya buku-buku lain yang telah ditulisnya, kumpulan cerita yang disajikan oleh Ratih Kumala ini pun memiliki aroma sastra yang kuat. Bukan hanya dalam pendeskripsiannya. Namun dalam percakapan tokohnya pun ada.
#reading_challenge_ODOP
#Level_4
#Tantangan_2
26 Februari 2019
Pendidikan Indonesia di Era Belanda
Mengenal sejarah Indonesia pada jaman penjajahan, akan mengingatkan pada segala sistem yang pernah dighnakan oleh Belanda dan Jepang di Indonesia. Pada masa penjajahan Belanda, anak-anak di sekolah diajarkan sebuah materi tentang penjajahan Belanda di Indonesia. Mulai dari adanya sistem VOC, kerja paksa, tanam paksa hingga politik etis.
Setiap sistem yang digunakan oleh kerajaan Belanda di Indonesia tersebut memiliki aturan-aturan berikut dengan konsekuensinya sendiri. Namun tidak banyak materi sejarah yang secara khusus mengangkat mengenai dunia pendidikan saat itu.
Pada mulanya pendidikan di Indonesia tidak benar-benar ditujukan kepada anak-anak Indonesia. Pendidikan hanya diperuntukkan bagi anak-anak Belanda yanh tinggal di Indonesia. Itupun dalam jumlah yang terbatas.
Pada jaman "Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC)" kegiatan pendidikan lebih banyak dipusatkan di Indonesia bagian Timur seperti di Ambon. Sebenarnya tujuan utama dari pendidikan saat itu adalah untuk melenyapkan agama Katholik dan menyebarkan agama Kristen protestan. Selain itu pendidikan juga masih semata untuk tujuan sebuah persyaratan pekerjaan.
Pengajaran yang dilakukan saat itu masih menggunakan sistem individual. Belum ada sistem klasikal dalam sebuah kelas. Anak datang kepada guru satu per satu untuk mendapatkan materi yang mereka perlukan. Sekolah pada jaman VOC belum dapat disebut sebagai sekolah secara formal. Inilah yang menyebabkan pendidikan kurang berkembang.
Pendidikan bagi anak-anak Indonesia baru ada sekitar tahun 1846. Pendidikan saat itu bertujuan untuk melatih pegawai pemerintah. Saat itu terdapat sekolah rendah dengan kurikulum yang menyesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan sebagai pegawai pemerintah. Krisis ekonomi pada akhir abad ke-19 memaksa Belanda untuk mengadakan diferensiasi dalam pendidikan bagi anak Indonesia yakni anak-anak golongan atas dan rendah. Sehingga muncullah sekolah kelas satu dan sekolah kelas dua.
Sekolah kelas satu merupakan sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak golongan atas. Yakni anak-anak dari kalangan aristrokasi dan orang berada. Bahasa Belanda di ajarkan di sekolah kelas satu, sedangkan di sekolah kelas dua tidak diajarkan. Lama sekolah kelas satu adalah lima tahun. Sedangkan sekolah kelas dua hanya tiga tahun.
Tahun 1907 sekolah kelas satu menjadi enam tahun dengan dimasukkannya kurikulum Bahasa Belanda. Namun demikian sekolah ini yang kemudian berubah nama menjadi Hollands Inlandse School (HIS) masih tidak memiliki pintu gerbang untuk melanjutkan ke jenjang sekolah atas. Sekolah atas waktu itu hanya dapat diakses dari sekolah rendah untuk Belanda dan Cina.
Europese Lagere School (ELS) merupakan sekolah rendah untuk Belanda. Sekolah ini jelas hanya ditujukan bagi anak-anak Belanda. Kemudian diperluas dengan diperbolehkannya anak-anak Indonesia dari golongan elit. ELS memiliki pola 7 tahun dan mengadopsi kurikulum negara asalnya.
Sekolah rendah lainya adalah "Holands Chinese School" (HCS) merupakan sekolah rendah bagi anak-anak Cina yang berada di Indonesia. Kurikulum yang digunakan di sekolah ini hampir sama dengan ELS kecuali pada pengajaran Bahasa Belanda diganti dengan Bahasa Inggris.
Sekolah lanjutan yang ada adalah "Hogere Burger School" (HBS). Sekolah lanjutan ini hanya diperuntukkan bagi anak-anak Belanda. Membatasi masuknya anak-anak Indonesia di sekolah lanjutan. Kemudian muncul sekolah lanjutan yang dapat diakses anak-anak Indonesia yakni MULO dan AMS.
Pada tingkat pendidikan tinggi atau universitas. Lagi-lagi kesempatan anak Indonesia sangatlah terbatas. Anak-anak Belanda selalu jauh lebih maju dan memiliki kesempatan yang lebih luas.
#reading_challenge_ODOP
#Level3
#Tantangan_2
18 Februari 2019
Skripsi yang Tertunda
Aku benar-benar kehabisan akal. Batas waktu tinggal menghitung jam saja. Tak sampai 12 jam, dan semuanya akan berakhir. Kakiku masih saja di dalam kamar ini. Hilir mudik sejak tiga jam yang lalu. Duduk di atas kursi butut di pojok kamar. Sebentar kemudian pindah ke kasur yang tak kalah bututnya. Sebentar kemudian berdiri di ambang jendela. Lalu duduk lagi. Inilah yang kulakukan sejak pulang dari acara kampus sore tadi.
Azan maghrib baru saja selesai berkumandang saat aku menginjakkan kaki ke kamar kos yang tak seberapa besar. Kamar dengan ukuran 3x3 m dengan perabot yang super minimalis inilah yang telah menjadi istanaku selama 4 tahun kuliah di Kota Gudeg. Tahun ini sudah kubulatkan tekad harus dapat menyelesaikan skripsi yang telah tertunda satu semester. Setelah seminar proposal, aku tidak meneruskan tugas akhirku. Membiarkannya menumpuk di atas meja, bersama kertas-kertas lain yang tidak penting.
Lalu hari ini, aku pun mendapat ultimatum dari kampus, yang intinya agar segera menyelesaikan skripsi. Atau pulang kampung tanpa gelar. Apa kata Emak dan Bapak nanti jika aku sampai pulang tanpa membawa gelar.
"Balqis, instrumen penelitian ini sudah saya setujui, tinggal direvisi sedikit pada bagian indikator ketiganya. Setelah itu kau boleh lanjutkan ke penelitiannya."
Inilah kalimat terakhir Pak Arif Budiman Dosen pembimbingku. Enam bulan yang lalu aku telah siap menuju ke lapangan untuk penelitian. Sebelum semuanya menjadi runyam, dan dunia seolah hancur di hadapanku.
"Mut, kau tahu apa yang paling kutakutkan kini?" Tangisku di hadapan sahabat terbaikku. Aku tengah berada di kamar kos Mutia sejak pagi. Mutia adalah teman sekelasku, yang hampir menyelesaikan skripsinya. Tinggal bimbingan satu kali lagi dan selesailah sudah.
"Apa?" Mutia membawakanku segelas air putih hangat.
"Sebentar lagi kau akan ujian skripsi, lulus, wisuda dan pulang kampung. Sementara aku, enam bulan tanpa ada kemajuan, sebentar lagi akan sendirian di kampus. Bahkan aku tak tahu harus memulainya lagi dari mana." Mutia menggeser duduknya mendekapku.
"Hei, Balqis. Kenapa harus bersedih. Aku sudah sering memberikan semangat kepadamu agar kau segera bangkit. Data yang hilang dapat kau cari lagi. File skripsimu yang ada di laptop bukankah sudah kau backup di flasdisk juga kan?"
Enam bulan aku masih saja terpuruk dengan hilangnya laptop kesayanganku. Bukan laptopnya yang kusesalkan. Namun semua data skripsi mulai dari bab satu hingga bab tiga ada disana semua. Instrumen dan hasil penelitian pun turut raib. Sebulan setelah aku mendapat acc dari Pak Arif untuk terjun ke lapangan, dan telah mendapatkan data. Seorang maling berhasil menggondol laptop kesayanganku.
"Ayolah, Balqis. Sudah saatnya kamu bangkit. Ayo kembali kepada skripsimu. Cukup sudah kau menyesali kehilanganmu. Setidaknya kau masih punya print out bab 1 sampai 3 dan instrumennya kan? Mutia menyadarkanku dari lamunan.
Setelah laptopku hilang, skripsiku memang tidak berjalan dengan lancar. Aku kehilangan semua data. Bahkan, backup data di flasdisk yang telah kubuat ternyata terserang virus, sehingga hilang semuanya. Praktis aku seperti kehilangan segalanya. Siang tadi, aku mengurus registrasi semesteran, dan mendapatkan ultimatum yang kini membuatku mondar-mandir tak keruan di dalam kamar.
"Namamu Balqis Azzahra, bukan?" Seorang gadis mendatangiku secara tiba-tiba di serambi masjid kampus.
"Eh, iya. Benar. Kamu siapa?" Tanyaku sambil mengerutkan kening. Aku tak merasa kenal dengan gadis ini. Umurnya tidak jauh berbeda denganku. Mungkin dia juga mahasiswa di kampus ini.
"Saya Imah, mahasiswa semester dua di Fakultas hukum, maaf Mbak Balqis apakah benar mbak sedang menyusun skripsi?" Gadis di depanku bertanya dengan sopannya. Ternyata dia memang mahasiswa di kampus ini. Berbeda angkatan dan jurusan denganku. Aku berada di jurusan Ilmu Pendidikan, sedangkan Dia di Fakultas Hukum.
"Eh, iya. Ada apa ya Dik? Kututup buku yang sejak tadi kupegang.
"Begini mbak. Tapi maaf juga sebelumnya apakah Mbak Balqis pernah kehilangan data skripsi?" Bagai disambar petir. Akupun kaget dibuatnya. Bagaimana bisa gadis ini tahu kalau aku pernah kehilangan data skripsiku.
Imah tampak membuka laptop mungilnya. Lantas membuka sebuah file yang sangat umum dibuat oleh mahasiswa tingkat akhir saat menyusun skripsi. BAB I, BAB II, dan BAB III ketiga file ini langsung dibuka semua oleh Imah.
Aku masih belum mengerti apa yang dilakukannya. Namun, Imah kembali memberikan sebuah kejutan kepadaku. Begitu layar telah berganti menjadi microsoft word dengan file BAB I, disodorkannya laptop mungil itu kepadaku.
"Mbak Balqis coba baca!" Kalimat demi kalimat kutelusuri.
"Ini, tapi tidak mungkin." Pekikku tertahan.
"Jadi, Mbak kenal dengan tulisan ini?" Aku membaca semua file yang telah dibuka oleh Imah.
"Tapi, bagaimana mungkin data ini bisa ada padamu? Ini kan..." masih dalam kebingungan, aku tak mampu berkata-kata.
"Ya Mbak, data itu saya temukan di sebuah flasdisk. Flasdisk itu sendiri saya temukan di jalan masuk kampus ini sekitar dua bulan yang lalu. Awalnya saya akan memformat flasdisk itu agar dapat digunakan. Namun, iseng-iseng saya buka. Kok isinya data skripsi semua. Di setiap folder tetulis nama-nama mahasiswa pemilik skripsi tersebut. Kupikir, mungkin ini flasdisk milik rentalan komputer di depan kampus itu. Tapi ternyata bukan. Lantas saya mulai mencari nama-nama yang ada di dalam folder tersebut. Salah satunya nama Mbak Balqis ada disana."
"Terima kasih sekali ya Dik, aku sangat memerlukan data ini. Setelah enam bulan yang lalu, laptopku hilang dicuri. Kini entah bagaimana caranya, data ini bisa kembali lagi kepadaku melalui perantaraan kamu." Tak terasa air mataku mengalir. Doa panjang di sujudku malam tadi dijawab langsung oleh Allah. Siang ini seluruh dataku kembali lagi. Entah si maling merasa kasihan kepada mahasiswa-mahasiswa yang menjadi korbannya. Ataukah ada misteri lain yang tak dapat kumengerti. Yang jelas aku kini dapat menyelesaikan skripsiku yang tertunda satu semester lamanya.
14 Februari 2019
Ratu Balqis Penguasa Negeri Saba
Allah Swt telah menjelaskan dalam surah an-Naml ayat 23: "Sesungguhnya Aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar."
Wanita yang dimaksud dalam ayat di atas tidak lain adalah Balqis. Sosoknya yang cantik dan anggun ditambah dengan kebijaksanaan dalam memutusakan segala sesuatu, membuat wanita ini disegani oleh seluruh rakyat Negeri Saba. Menurut Riziem Aizid penulis buku Siapakah Sebenarnya Ratu Balqis?, menyatakan bahwa Balqis adalah keturunan dari dua jenis makhluk yang berbeda yakni manusia dan jin. Ayah Balqis adalah seorang raja di Negeri Yaman, sedangkan ibunya Raihanah adalah anak dari Raja Jin.
Ketika lahir, Balqis kecil diasuh oleh bangsa jin. Setelah beranjak remaja Balqis kembali kepada ayah dan ibunya. Setelah ayah Balqis wafat, Dia menggantikannya menjadi seorang Ratu. Namun demikian ada seorang anak pamannya yang tidak setuju dengan posisi Balqis yang menggantikan ayahnya, karena Dia seorang perempuan. Maka laki-laki anak pamannya itupunenobatkan dirinya sebagai raja. Dari kejadian ini Negeri Saba terpecah menjadi dua kelompok.
Selang beberapa waktu, rakyat yang dipimpin oleh anak paman Balqis mengeluhkan kepemimpinan Raja mereka yang sewenang-wenang. Ratu Balqis pun mengirim surat dan menawarkan agar Ia menjadi suaminya. Setelah pesta pernikahan mereka, di malam harinya Ratu Balqis membunuh Raja yang merupakan anak dari pamannya. Dengan terbunuhnya Raja ini, maka Ratu Balqis memiliki kekuasaan penuh terhadap Negeri Saba. Rakyat pun menerima kepemimpinannya dengan suka cita.
Negeri Saba yang dipimpin oleh Ratu Balqis tumbuh menjadi wilayah yang subur, dan penuh dengan berbagai kenikmatan. Ilmu pengetahuan sudah sangat berkembang di Negeri ini. Bahkan menurut banyak cerita, di negeri ini terdapat sebuah bendungan yang difungsikan sebagai pengairan lahan seluruh wilayah Saba.
Bercerita mengenai Ratu Balqis tentu akan menyangkut pula cerita mengenai Nabi Sulaiman. Sebelum mengikuti ajaran Nabi Sulaiman, Ratu Balqis dan rakyatnya menyembah matahari. Suatu ketika Ratu Balqis menerima surat dari Nabi Sulaiman, yang menyatakan agar Ratu Balqis berserah diri kepada Allah dan mengikuti ajaran Allah.
Ratu Balqis pada mulanya menolak ajakan ini dengan jalan damai. Yakni mengirim utusan kepada Nabi Sulaiman dan membawakannya hadiah yang mewah. Namun rupanya Nabi Sulaiman telah mengetahui hal itu, sehingga Beliau telah mempersiapkan penyambutan kedatangan Ratu Balqis dengab cara memindahkan singgasananya ke kerajaan Nabi Sulaiman. Demi melihat kejadian ini, Ratu Balqis pun berserah diri kepada Nabi Sulaiman, dan mengakui keesaan Allah.
Negeri Saba yang dipimpin oleh Ratu Balqis sendiri, mengalami kemunduran yang sangat drastis. Ini terjadi karena Rakyat Saba tidak bersyukur atas segala kenikmatan yang telah mereka miliki selama ini. Allah Swt mendatangkan banjir dahsyat, dengan jebolnya bendungan yang menjadi ikon Negeri Saba. Setelah banjir itu, tidak ada pepohonan yang dapat tumbuh subur kecuali pohon yang berbuah pahit rasanya.
#ReadingchallengeODOP
#Level_2
#Tantangan_2
30 Maret 2018
Kisah Si Doraemon
14 Maret 2018
Hakmu Adalah Hakku
Pernahkah ada orang yang meminta agar diberi sakit kepadanya? Tentu tidak, kalaupun ada seribu banding satu. Setiap kali seseorang menengadahkan tangan memohon kepada Tuhan pastilah memohon kesehatan, kelimpahan rejeki dan sabagainya. Sakit memang tidak diminta, namun dia dapat datang secara tiba-tiba.
Tapi jika dilihat lebih dalam lagi, sakit itu sebenarnya datang memenuhi sebuah undangan. Ya, undangan dari tubuh. Sadar atau tidak sadar banyak penyakit yang datang karena kelalaian menjaga tubuh sendiri. Kekhilafan, sebagimana yang orang bilang dapat menjadi pemicu penyakit hinggap.
Kata Ustadz Musa, "Jika mata sudah ngantuk, maka dia harus diberikan haknya untuk merem. Jika tidak, itu sama saja dengan mendholimi diri sendiri. Dan mendholimi diri sendiri itu termasuk perbuatan yang nggak baik. U..la...la...". Nah, point penting dari perkataan tersebut adalah setiap anggota tubuh memiliki hak. Mata punya hak untuk merem saat dia sudah pedes melihat layar 14 inchi. Kaki punya hak untuk diselonjorkan saat dia sudah kesemutan. Atau perut juga punya hak saat dia sudah keroncongan.
Hak setiap anggota tubuh, secara otomatis juga merupakan hak pribadi seseorang. Mengisi perut yang keroncongan, jika diabaikan akan menjadi masalah. Sekali dua kali masih dapat dimaafkan. Namun lambung, akan segera bereaksi menuntut haknya. Jadilah demonstrasi Si asam lambung di dalam perut. Sakit maag pun datang memenuhi undangan. Logika ini juga akan berjalan pada kondisi anggota tubuh lainnya.
So,... setiap hak yang dimiliki anggota tubuh pada dasarnya adalah cara mereka mempertahankan diri untuk tetap berjalan secara normal, tanpa ada gangguan.
5 Maret 2018
Kisah di Balik Kopdar Jogja
25 Januari 2018
Beras Oh Beras
Harga beras berapaan sekarang ya? Naiknya berapa rupiah emangnya? Kamu itu dari planet mana saja? Sampai nggak tahu harga beras yang selangit tingginya. Salah ya, jika aku sampai tidak tahu sama sekali harga beras. Sefatal apakah jika aku nggak tahu akan hal ini. Apakah sefatal serangan gagal jantung.
Beras memang termasuk makan pokok yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Indonesia. Apalagi orang Jawa, sudah makan macem-macem, tapi kalau belum nasi yang masuk mulut tetap saja namanya belum makan. Padahal pagi sudah segelas susu dan tiga potong roti. Masih ditambah pula camilan jajan pasar. Kue apem, sama arem-arem. Kenyang banget itu harusnya. Tapi, kalau belum nasi yang dimakan, maka namanya tetap saja belum sarapan. Busyeett... memang makan harus nasi ya.
Tapi, apapun opini masyarakat secara umum, makanan pokok tetaplah berpengaruh pada pola pikir dalam hal makanan. Beras sebagai bahan mentah nasi menjadi sangat urgent sifatnya. Jika beras tinggal segelas, alamat ibu-ibu sebagai Sang juru masak akan bingung dan pusing tujuh keliling. Duit nggak ada, nyari utangan ke warung sebelah sudah nggak berani lagi. Pinjem tetangga apalagi, sudah kena marah berkali-kali. Nunggu suami gajian kok ya masih sepuluh hari lagi.
Ini hanya salah satu contoh betapa beras akan mampu merubah kondisi psikis dari santai menjadi khawatir dan gelisah. Beras habis, nangis. Ada duit sedikit, rupanya tak cukup untuk membeli beras. Biasanya dapat sepuluh kilo, eh ini cuma dapat tujuh kilo. Ini baru berasnya saja. Belum sayuran dan lauk pendping nasi. Apa iya mau makan nasi sama garam saja?
Aduh, catatan pemasukan dan pengeluaran belanja sehari-hari menjadi morat-marit. Gaji suami tidak bertambah, tapi belanjanya harus dirubah gara-gara harga yang nggak stabil. Belum lagi kalau ada kebutuhan mendadak lainnya. Termasuk pula jika ada sanak famili yang punya hajat, kita pula ikut bingung. Pengeluaran tak terencana lainnya harus segera dicatat disana. Akhirnya sebelum akhir bulan, bahkan belum sampai pertengahan bulan uang sudah raib tak bersisa. Persediaan beras tinggal wadahnya yang menganga menanti untuk diisi kembali.
Kalau sudah begini, apa iya wadah itu mau diisi puisi begini:
Sebutir, dua butir kau sangat bermakna bagiku.
Laparku kan hilang, saat buliranmu telah matang dan empuk
Aroma yang menggoda jiwa
Huummm,... ini sangat harum.
Tanganku mencari-cari butiranmu
Dalam wadah kotak biru berhias keemasan
Tung..tung...tung
Tak ada yang bisa ku hitung
Dong...dong...dong
Tak ada beras, wadahnya kosong
Beras yang tak terbeli, sawah yang tidak bisa dipanen. Gaji suami juga sudah tidak cukup lagi. Anak-anak sudah minta nasi. Apa iya mau dikasih piring kosong saja? Haduuh, pusingnya jadi ibu rumah tangga kalau begini.
Beras Oh Beras
Harga beras berapaan sekarang ya? Naiknya berapa rupiah emangnya? Kamu itu dari planet mana saja? Sampai nggak tahu harga beras yang selangit tingginya. Salah ya, jika aku sampai tidak tahu sama sekali harga beras. Sefatal apakah jika aku nggak tahu akan hal ini. Apakah sefatal serangan gagal jantung.
Beras memang termasuk makan pokok yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Indonesia. Apalagi orang Jawa, sudah makan macem-macem, tapi kalau belum nasi yang masuk mulut tetap saja namanya belum makan. Padahal pagi sudah segelas susu dan tiga potong roti. Masih ditambah pula camilan jajan pasar. Kue apem, sama arem-arem. Kenyang banget itu harusnya. Tapi, kalau belum nasi yang dimakan, maka namanya tetap saja belum sarapan. Busyeett... memang makan harus nasi ya.
Tapi, apapun opini masyarakat secara umum, makanan pokok tetaplah berpengaruh pada pola pikir dalam hal makanan. Beras sebagai bahan mentah nasi menjadi sangat urgent sifatnya. Jika beras tinggal segelas, alamat ibu-ibu sebagai Sang juru masak akan bingung dan pusing tujuh keliling. Duit nggak ada, nyari utangan ke warung sebelah sudah nggak berani lagi. Pinjem tetangga apalagi, sudah kena marah berkali-kali. Nunggu suami gajian kok ya masih sepuluh hari lagi.
Ini hanya salah satu contoh betapa beras akan mampu merubah kondisi psikis dari santai menjadi khawatir dan gelisah. Beras habis, nangis. Ada duit sedikit, rupanya tak cukup untuk membeli beras. Biasanya dapat sepuluh kilo, eh ini cuma dapat tujuh kilo. Ini baru berasnya saja. Belum sayuran dan lauk pendping nasi. Apa iya mau makan nasi sama garam saja?
Aduh, catatan pemasukan dan pengeluaran belanja sehari-hari menjadi morat-marit. Gaji suami tidak bertambah, tapi belanjanya harus dirubah gara-gara harga yang nggak stabil. Belum lagi kalau ada kebutuhan mendadak lainnya. Termasuk pula jika ada sanak famili yang punya hajat, kita pula ikut bingung. Pengeluaran tak terencana lainnya harus segera dicatat disana. Akhirnya sebelum akhir bulan, bahkan belum sampai pertengahan bulan uang sudah raib tak bersisa. Persediaan beras tinggal wadahnya yang menganga menanti untuk diisi kembali.
Kalau sudah begini, apa iya wadah itu mau diisi puisi begini:
Sebutir, dua butir kau sangat bermakna bagiku.
Laparku kan hilang, saat buliranmu telah matang dan empuk
Aroma yang menggoda jiwa
Huummm,... ini sangat harum.
Tanganku mencari-cari butiranmu
Dalam wadah kotak biru berhias keemasan
Tung..tung...tung
Tak ada yang bisa ku hitung
Dong...dong...dong
Tak ada beras, wadahnya kosong
Beras yang tak terbeli, sawah yang tidak bisa dipanen. Gaji suami juga sudah tidak cukup lagi. Anak-anak sudah minta nasi. Apa iya mau dikasih piring kosong saja? Haduuh, pusingnya jadi ibu rumah tangga kalau begini.
13 Januari 2018
Talenta, Anugerah Luar Biasa dari Tuhan
Talenta setiap manusia itu berbeda beda. Dua anak yang lahir dari rahim sama pun punya perbedaan. Seorang ibu yang memiliki dua anak pernah bercerita. Anak pertamanya memilikkemampuan yang kurang dalam berhitung, sehingga nilai matematika nya selalu jeblok. Namun anak ini memiliki talenta luar biasa dalam menulis cerita. Apapun yang dilihat dan dialami jadi sebuah cerita. Walaupun masih sederhana anak kelas empat sekolah dasar ini telah mampu menggali talentanya sejak dini.
Lain halnya dengan anak kedua dari Ibu tadi. Anak keduanya tidak suka membuat cerita. Pelajaran Bahasa Indonesia adalah hal yang tidak disukainya. Namun dalam urusan berhitung anak ini lebih jago. Sehingga mata pelajaran matematika menjadi favoritnya. Setiap kali ada tugas berhitung, diselesaikan sesegera mungkin tanpa harus disuruh. Berhitung bagi anak ini seperti sebuah permainan menarik. Maka tak heran jika nilai matematikanya selalu lebih baik dari kakaknya.
Kedua anak dalam cerita di atas lahir dari Ibu yang sama. Namun Tuhan tidak serta merta menjadikan talentanya sama. Maka tidak heran jika talenta manusia satu dengan lainnya tidaklah sama. Talenta merupakan anugerah dari Tuhan yang tidak terkira. Tidak ada yang bisa request kepada Tuhan untuk menginginkan sebuah talenta.
Talenta ada dari setiap anak yang dilahirkan. Talenta yang seringpula dikenal sebagai bakat ini tidak akan maksimal jika hanya dibiarkan. Ibarat tumbuhan, jika dirawat lebih baik, tentu hasilnya pun akan lebih maksimal. Bakat yang sudah dianugerahkan telah menjadi tugas dari setiap manusianya sendiri untuk mengasah, dan terus membinanya sehingga benar-benar menjadi bakat atau talenta yang luarbiasa.
12 Januari 2018
Lebih Susah Menjadi Pembicara atau Pendengar
Debat seolah menjadi tema malam ini. Bukan debat politik, maupun kenegaraan yang menyangkut orang-orang hebat di ibukota sana. Debat "ngalor-ngidul" berbagai macam tema. Tidak perlu muluk-muluk, cukuplah seputar dunia mereka yang paling dekat.
Keinginan untuk tampil lebih di depan lainnya, dan menguasai lainnya seolah telah menjadi hal yang biasa. Setiap mereka yang mengacungkan tangannya menyentakkan pikiran. Semua
Saling berlomba memimpin untuk menjadi yang paling berpengaruh di ruangan ini. Bahkan kadang melupakan siapa sebetulnya yang berhak menjadi pimpinan.
Ternyata mempraktikkan teori yang telah diajarkan sejak jaman sekolah dasar tidak semudah membalik telapak tangan. Kata teori, menghargai pendapat orang lain itu sangat penting dalam berdemokrasi. Menghargai pendapat, atau sekedar mendengarkan saat orang lain berbicara, pada kenyataannya menjadi pendengar jauh lebih sulit daripada menjadi pembicara.
Ketika seseorang telah mampu berbicara. Saat itulah dia telah menjadi pembicara hebat. Lambat laun akan semakin berkembang menjadi semakin hebat. Tidak perlu teori banyak untuk menjadi seorang pembicara. Hanya perlu sedikit keberanian dari dalam diri, jika akan berbicara di depan orang banyak. Sekali kata terucap, maka kata lain akan mengikut di belakangnya.
Sekarang mari perhatikan, bagaimana halnya dengan mendengar. Kemampuan seseorang untuk mendengarkan saat orang lain berbicara rupanya jauh lebih sulit. Terlebih saat orang yang menjadi pembicara tidak sejalan sama sekali dengan apa yang ada dalam benak pendengar. Sudah dapat dipastikan akan secepat kilat ada sambutan kalimat dari lainnya. Rupanya kemampuan mendengar menjadi kebutuhan yang perlu disikapi dengan lebih teliti.
Setiap pembicara dalam debat yang hebat dengan berbagai dalil yang luar biasa akan lebih santun saat dibarengi dengan pendengar yang luar biasa pula. Angan-angan ini bukan tak mungkin terjadi, selama setiap orang yang berada dalam satu ruang perdebatan menyimpan emosinya untuk mengedepankan logika dan kesantunan dalam perdebatan.
29 Desember 2017
Gerah sudah
Tajamnya terik matahari kali ini, membuatku bergegas. Antara kepanasan dan keinginan untuk cepat sampai ke tempat tujuan. Di antara rintihan terik matahari sinar kemilau sesekali memantul dari kaca-kaca spion, maupun kaca gedung. Lihatlah, berapa jiwa yang merasa enggan berada di tengah terik matahari ini. Ini bukan kali pertama aku melihat sekeliling. Keluh yang bercampur dengan peluh. Kesah yang berbaur dengan resah. Keinginan untuk segera berteduh seolah menjadi prioritas setiap pengguna jalan di bawah panggangan matahari yang hampir mencapai 40 derajat.
Panas...gerah.... Maka tak heran jika di perempatan lampu merah, banyak yang memilih mencari perlindungan dari teriknya matahari. Di samping bus, truk, kontainer, atau di bawah bayangan pohon perindang jika beruntung menemukannya. Saat panas begini, banyak yang berkata "Aduh, coba sepanjang jalan ini ada pohon-pohonnya. Kan enak adem, nggak kepanasan gini".
Belum lagi, saat segala jenis kendaraan bermesin itu mengeluarkan asapnya. Mulai dari yang paling ramah sampai asap yang hitam legam, seperti jelaga di balik penggorengan. Panas...gerah...masih tambah dengan asap pula. Saat seperti ini, masih saja banyak yang ngomong "Coba pohon-pohon pinggir jalan kemaren nggak ditebang semuanya, pasti lebih adem." Ah... sudahlah. Pohonnya terlanjur jadi kayu bakar di perapian.
Ini memang pilihan yang dilematis. Kendaraan makin banyak. Jalan makin terasa sempit. Pohon perindang di tepi jalan kenalah sebagai sasarannya. Habis ditebang, jalan diperlebar. Tuh, lihatlah... jalan makin lapang. Setidaknya bertambah dua meter lebarnya. Kalau urusan pohon, ya mau bagaimana lagi. Dia tidak punya tempat lagi di tepi jalan ini. Tidak ada sisa tanah yang mampu menampung akarnya.
27 Desember 2017
Coretan cinta
"Apakah arti cinta bagimu?" Cinta hanyalah sepenggal kata yang mungkin tanpa makna. Namun bisa jadi sarat akan makna di lain pihak. Aku tak mau berandai-andai dengan cinta. Karena sesungguhnya cinta tak kan pernah mau mengerti. Cinta tak akan pernah mau tau apa sebenarnya arti dirinya. Bagiku cinta bukanlah apa-apa. Biarkan dia tetap menjadi sekedar kata.
Cinta adalah sahabat. Dia akan tetap ada sampai kapanpun. Bagiku, Kau adalah cinta yang tak dapat kumaknakan. Ada yang bilang cinta itu tak perlu disuarakan. Dalam diam pun cinta tetap mampu menembus keheningan. Tak perlu berkoar kesana kemari tentang cinta. Dan aku tetap memegang cinta itu dalam kesunyian. Dingin, dan tetap tak mampu kumaknakan dengan sempurna. Karena cinta ku tetap bersembunyi dalam angan.
Ada juga yang bilang, cinta adalah pengorbanan. Bukan hanya kesenangan belaka. Ada kalanya, dia perlu dinyatakan dalam tangisan dan kesenduan lainnya. Aku melepaskanmu bukan demi keegoan. Inilah cintaku yang tak pernah mampu kuhilangkan. Kau memang tak bersamaku. Aku tak ingin menjadi sosok yang memelihara keegoan terlalu lama. Pergilah kemana seharusnya kau pergi. Namun, kumohon jangan Kau suruh aku mengenyahkan cinta ini. Aku tak akan mengganggumu lagi.
Bahagiamu adalah cintaku yang tak mampu ku ungkapkan. Kau tak perlu lagi berbalik kesini. Tempatmu memang bukan disini. Pergilah padanya,... ada Dia di depanmu. Aku hanyalah sepotong kenangan bagimu. Bulan, tahun telah berlalu. Hingga kutuliskan ini sebagai ungkapan yang tak mampu kusampaikan langsung. Aku hanya menuliskan cintaku pada selembar angan yang kuharap akan terbawa angin. Hingga sampai pada mimpimu.
Bahagiamu adalah cintaku yang tak terlukiskan di kanvas apapun. Karna aku sudah tak lagi mampu temukan kanvas untuk melukis. Bahkan sekedar melukis namamu. Aku hanya mampu melukiskannya di angan, yang sekali lagi kuharap akan terbawa angin hingga ke mimpimu.
Kasih... ah, tak pantas rasanya ku gunakan kata itu. Karena Kau hanyalah anganku. Aku pernah berkata padamu, dalam pertemuan terakhir kita. Aku akan selalu mencintaimu dalam diam. Kesunyian adalah temanku, dan diamku adalah caraku untuk tetap mengenangmu.
Inilah jalan yang harus kita tempuh. Walaupun terkadang aku selalu saja mengatakan, "Mengapa kita harus bertemu?" Wajarkan jika Aku mengatakannya. Aku penuhi keinginanmu. Bertahun-tahun tanpa menghubungimu. Aku berusaha agar tidak tahu dan tidak mau tahu apa yang terjadi denganmu. Hingga di suatu titik tertentu, saat keheningan tak lagi mau menjadi temanku. Saat diam tak lagi mau menjadi perwakilan dari cintaku. Tapi Kau tak perlu gelisah. Aku hanya mampu menuliskan rangkaian kata ini. Aku tak kan mungkin bisa mengatakan apapun lagi padamu. Tidak juga kepadanya.
Selamanya Aku tetap akan mencintaimu dalam diam.
20 September 2017
Kebahagiaan dan Kesuksesan
Manakah sebenarnya yang lebih tepat? Kebahagiaan akan membawa kesuksesan ataukan kesuksesan akan membawa kebahagiaan.
Dua kalimat itu terdiri dari empat kata yang sama. Hanya penempatannya saja yang berbeda. Perbedaan penempatan ini ternyata memiliki makna yanh jauh berbeda. Jika Anda memegang kalimat "kesuksesan akan membawa kebahagiaan" selamat, Anda termasuk orang yang akan terus berjuang dalam mencapai sesuatu. Kesuksesan dapat diukur dari banyak hal. Kepintaran, kekayaan, atau yang lainnya.
Seorang pelajar yang lulus dalam ujian dan memperoleh nilai yang bagus, sudah pasti akan mengatakan "Aku sukses ujian" sambil tertawa lebar ataupun tersenyum simpul. Pedagang yang kelarisan dan mendapatkan keuntungan berlimpah juga pasti akan mengatakan "Hari ini jualanku sukses" dengan senyuman mengembang di bibir. Ini berarti kesuksesan telah membawa kepada kebahagiaan.
Sekarang bagaimana halnya dengan Anda yang memilih kebahagiaan akan membawa kesuksesan. Anda tidak salah. Maka Selamat juga bagi Anda. Karena termasuk dalam golongan orang-orang yang akan terus memilih berparas bahagia daripada bermuka masam. Pandangan ini menyatakan bahwa kebahagiaan bukan sebagai akibat dari suatu tindakan, melainkan dialah yang berfungsi sebagai pemicu untuk akibat lainnya. Kebahagiaan harus diciptakan sejak awal.
Saat kita telah merasa bahagia akan segala hal. Menjadi mudah untuk mencapai lainnya. Saat belajar dengan perasaan senang, akan lebih mudah menyerap materi, daripada belajar dalam suasana hayi yang sedih, panas, atau perasaan negatif lainnya. Kesenangan akan belajar bisa menjadi kecintaan. Berasal dari rasa sennag inilah, maka kesuksesan akan menyusul kemudian.
Kembali kepada kalimat pembuka tulisan ini. Maka tak ada yanh salah pada keduanya. Setiap mereka memiliki maknanya sendiri. Kita hanya perlu menentukan pilihan. Kalaupun masih bimbang untuk satu hal, setidaknya kita bisa lebih memahami pemaknaan kata bahagia.
8 September 2017
Masih Tentang Penulis
Dunia literasi sedang menjadi perbincangan hangat. Ada apa gerangan? Bagi para penikmat novel penulis keren Tere Liye, harus bersiap-siap untuk kehilangan tulisan versi cetaknya. Menyusul keputusannya untuk menarik 28 nasakhnya dari penerbit. Sudah pasti, tidak akan ada lagi cetak ulang novel-novel tersebut, hingga jangka waktu yang tidak diketahui.
Keputusan Tere Liye ini berkaitan dengan melonjaknya pajak royalti penulis. Pajak royalti sebesar 30% bagi penulis tanpa NPWP dan 15% bagi yang ber NPWP. pajak sebesar itu terasa sangat mencekik. Penulis sekelas Tere Liye dengan novel-novel best sellernya saja memutuskan untuk tidak lagi menerbitkan. Bagaimana dengan penulis-penulis pemula? Royalti yang diterima enam bulan sekali belum tentu genap satu juta rupiah, sebelum terkena pajak 15%. Setelah terkena pajak, bisa dihitung berapa pendapatan penulis pemula, apalagi yang tidak ber NPWP.
Ungkapan protes terhadap pajak royalti tidak hanya muncul dari Tere Liye saja. Sebutlah Dee Lestari, penulis novel ini juga mengungkapkan keberatannya atas besarnya pajak penulis. Akun-akun penulis di dunia maya, banyak yang mengeluhkan persoalan pajak royalti ini. Dee menuliskan secara gamblang mengenai perbandingan pajak royalti penulis dengan pajak profesi lainnya.
Tere Liye bisa jadi hanyalah satu dari sekian banyak penulis yang mengemukakan protesnya, dan langsung menjadi berita yang viral. Seperti gunung es. Bisa jadi keputusan Tere Liye ini nantinya akan diikuti oleh penulis-penulis lainnya. Betapa pun pajak sebesar 15% itu sangat mencekik penulis.

