29 Desember 2017

Gerah sudah

Tajamnya terik matahari kali ini, membuatku bergegas. Antara kepanasan dan keinginan untuk cepat sampai ke tempat tujuan. Di antara rintihan terik matahari sinar kemilau sesekali memantul dari kaca-kaca spion, maupun kaca gedung. Lihatlah, berapa jiwa yang merasa enggan berada di tengah terik matahari ini. Ini bukan kali pertama aku melihat sekeliling. Keluh yang bercampur dengan peluh. Kesah yang berbaur dengan resah. Keinginan untuk segera berteduh seolah menjadi prioritas setiap pengguna jalan di bawah panggangan matahari yang hampir mencapai 40 derajat.

Panas...gerah.... Maka tak heran jika di perempatan lampu merah, banyak yang memilih mencari perlindungan dari teriknya matahari. Di samping bus, truk, kontainer, atau di bawah bayangan pohon perindang jika beruntung menemukannya. Saat panas begini, banyak yang berkata "Aduh, coba sepanjang jalan ini ada pohon-pohonnya. Kan enak adem, nggak kepanasan gini".

Belum lagi, saat segala jenis kendaraan bermesin itu mengeluarkan asapnya. Mulai dari yang paling ramah sampai asap yang hitam legam, seperti jelaga di balik penggorengan. Panas...gerah...masih tambah dengan asap pula. Saat seperti ini, masih saja banyak yang ngomong "Coba pohon-pohon pinggir jalan kemaren nggak ditebang semuanya, pasti lebih adem." Ah... sudahlah. Pohonnya terlanjur jadi kayu bakar di perapian.

Ini memang pilihan yang dilematis. Kendaraan makin banyak. Jalan makin terasa sempit. Pohon perindang di tepi jalan kenalah sebagai sasarannya. Habis ditebang, jalan diperlebar. Tuh, lihatlah... jalan makin lapang. Setidaknya bertambah dua meter lebarnya. Kalau urusan pohon, ya mau bagaimana lagi. Dia tidak punya tempat lagi di tepi jalan ini. Tidak ada sisa tanah yang mampu menampung akarnya.

27 Desember 2017

Coretan cinta

"Apakah arti cinta bagimu?" Cinta hanyalah sepenggal kata yang mungkin tanpa makna. Namun bisa jadi sarat akan makna di lain pihak. Aku tak mau berandai-andai dengan cinta. Karena sesungguhnya cinta tak kan pernah mau mengerti. Cinta tak akan pernah mau tau apa sebenarnya arti dirinya. Bagiku cinta bukanlah apa-apa. Biarkan dia tetap menjadi sekedar kata.

Cinta adalah sahabat. Dia akan tetap ada sampai kapanpun. Bagiku, Kau adalah cinta yang tak dapat kumaknakan. Ada yang bilang cinta itu tak perlu disuarakan. Dalam diam pun cinta tetap mampu menembus keheningan. Tak perlu berkoar kesana kemari tentang cinta. Dan aku tetap memegang cinta itu dalam kesunyian. Dingin, dan tetap tak mampu kumaknakan dengan sempurna. Karena cinta ku tetap bersembunyi dalam angan.

Ada juga yang bilang, cinta adalah pengorbanan. Bukan hanya kesenangan belaka. Ada kalanya, dia perlu dinyatakan dalam tangisan dan kesenduan lainnya. Aku melepaskanmu bukan demi keegoan. Inilah cintaku yang tak pernah mampu kuhilangkan. Kau memang tak bersamaku. Aku tak ingin menjadi sosok yang memelihara keegoan terlalu lama. Pergilah kemana seharusnya kau pergi. Namun, kumohon jangan Kau suruh aku mengenyahkan cinta ini. Aku tak akan mengganggumu lagi.

Bahagiamu adalah cintaku yang tak mampu ku ungkapkan. Kau tak perlu lagi berbalik kesini. Tempatmu memang bukan disini. Pergilah padanya,... ada Dia di depanmu. Aku hanyalah sepotong kenangan bagimu. Bulan, tahun telah berlalu. Hingga kutuliskan ini sebagai ungkapan yang tak mampu kusampaikan langsung. Aku hanya menuliskan cintaku pada selembar angan yang kuharap akan terbawa angin. Hingga sampai pada mimpimu.

Bahagiamu adalah cintaku yang tak terlukiskan di kanvas apapun. Karna aku sudah tak lagi mampu temukan kanvas untuk melukis. Bahkan sekedar melukis namamu. Aku hanya mampu melukiskannya di angan, yang sekali lagi kuharap akan terbawa angin hingga ke mimpimu.

Kasih... ah, tak pantas rasanya ku gunakan kata itu. Karena Kau hanyalah anganku. Aku pernah berkata padamu, dalam pertemuan terakhir kita. Aku akan selalu mencintaimu dalam diam. Kesunyian adalah temanku, dan diamku adalah caraku untuk tetap mengenangmu.

Inilah jalan yang harus kita tempuh. Walaupun terkadang aku selalu saja mengatakan, "Mengapa kita harus bertemu?" Wajarkan jika Aku mengatakannya. Aku penuhi keinginanmu. Bertahun-tahun tanpa menghubungimu. Aku berusaha agar tidak tahu dan tidak mau tahu apa yang terjadi denganmu. Hingga di suatu titik tertentu, saat keheningan tak lagi mau menjadi temanku. Saat diam tak lagi mau menjadi perwakilan dari cintaku. Tapi Kau tak perlu gelisah. Aku hanya mampu menuliskan rangkaian kata ini. Aku tak kan mungkin bisa mengatakan apapun lagi padamu. Tidak juga kepadanya.

Selamanya Aku tetap akan mencintaimu dalam diam.