11 April 2016

Cinta dan Rindu

Typo lagi typo lagi. Ketik... hapus. Ketik lagi.. hapus lagi. Berkali-kali ini kulakukan. Lalu kapan selesainya tugas ini? Buntu. Nggak ada ide. Ide banyak berkeliaran. Namun gagal eksekusi dengan baik.
Akhirnya typo lagi typo lagi. Sambil nyanyi Si Komo Lewat yang terkenal di era Sembilan puluhan. Aku pengin curhat sebenarnya. Tentang sebuah cerita yang membuat mataku tak mau terpejam dengan lelap. Cerita yang selalu membuatku merasa tak enak saat melakukan aktifitas apapun.

Kali ini entah kenapa aku ingin menuliskan sebuah puisi.  Puisi yang tak pernah selesai.

A.ku jatuh cinta, tepat disaat ingin membenci
Cinta hanyalah bayangan yang tak mampu kukejar
Cinta hanyalah apa yang kau sebut pengorbanan
Cinta hanyalah luka yang tak pernah terobati

Aku merindu tepat disaat ingin membuang jauh segenap bayangmu
Rindu hanyalah bumbu penyedap yang kadang tak diperlukan
Rindu hanyalah secuil harapan tuk bertemu
Rindu hanyalah sebuah kata yang tak lagi punya makna

Karena cintaku telah mati
Karena rinduku telah hilang
Tak kan kembali

Cinta dan rindu hilang bersama kenangan
Bukan untuk dikenang
Bukan juga untuk dilupakan
Cinta dan rindu adalah simalakama bagiku

Yah, puisi ini tak akan pernah selesai. Karena aku tahu, dibalik puisi itu ada cerita yang mengambang hingga kini. Aku hanya ingin menuliskan apa pun yang kumau. Aku memang bukan penulis ternama. Aku hanya ingin menjadi apa yang mereka sebut sebagai penulis. Ah, kalimatku saja belibet begini. Andaikan sebuah makanan, tulisanku rasanya tak seenak roti manis buatan Ibu. Legit, lembut, manis. Pokoknya enak.  Tulisan ini malah tak lebih dari sepotong agar-agar yang kebanyakan air dan lupa diberi gula. Hambar sekali rasanya.

Mana mungkin aku mampu menjadi penulis hebat? Aku selalu berfikir demikian. Walaupun suntikan semangat selalu kudapat. Aku masih selalu merasa kekurangan disana sini. Terkadang merasa tidak percaya diri dengan hasil tulisan sendiri. Merasa kurang sreg dengan apa yang sudah ditulis, lantas edit sana edit sini. Habislah sudah, terpotong sana sini. Pastinya tulisan adalah tulisan. Dia hanya tetap menjadi benda mati, di dalam sebuah benda kecil yang bernama laptop. Atau benda mati yang tetap ada dalam lembaran-lembaran kertas, lantas menjadi hidup atau menghidupkan saat tersusun menjadi sebuah buku dan dibaca oleh banyak orang. Sepertinya aku masih selalu berharap untuk terjadinya hal ini. Aku tetap jatuh cinta, namun sekaligus benci saat harus menghadapi tulisanku sendiri. Jatuh cinta dengan dunia tulis menulis, sekaligus benci saat  membaca hasilnya yang belum memuaskan.







10 komentar:

  1. Tulisannya sudah bagus mba... N sudah dikenal, Minimal sdh dikenal di ODop 2.. He..

    BalasHapus
  2. Pokoke nulis.
    #SalahBenerUrusanMburi

    BalasHapus
  3. Mbak juni curhat? Curhat aja jadi ide.. keren banget mbak..

    BalasHapus
  4. Curcol Mba. Curcol jadi ide #eh intinya komenku sama kayak mba vinny 👍

    BalasHapus
  5. Curcol Mba. Curcol jadi ide #eh intinya komenku sama kayak mba vinny 👍

    BalasHapus
  6. Tidak perlu membenci, ini adalah sebuah proses.

    Saya ngomong apa sih. -,-

    Btw, Tagline-nya Mas Heru bagus untuk kita ikuti. Hi hi^^

    BalasHapus