24 Maret 2016

Remaja Era Sembilan Puluhan

Kali ini masih tentang anak era delapan puluhan. Apa istimewanya era tersebut? Bagi sebagian orang era ini tidak ada istimewanya sedikit pun. Namun bagi sebagian yang lain akan menghadirkan banyak keistimewaan. Bagi mereka yang belum pernah mengalami atau bahkan belum pernah mendengar ceritanya sama sekali era delapan puluhan, bukanlah suatu hal yang mengasyikkan untuk disimak. Era ini tak lebih hanya sebagai sebuah pelengkap tahun sebelum kehadirannya di dunia. Tak mengapa, toh tidak ada hukum yang mengharuskan atau pun mewajibkan seseorang untuk mengenang masa-masa yang tidak dialaminya sama sekali. 

Kenangan tentang tahun delapan puluhan, bagi mereka yang baru lahir pada tahun ini tentunya hanya akan mendapatkan cerita dari kedua orang tua, atau orang-orang di sekitarnya. Tak sedikit pula yang akhirnya mampu mengenang masa kecilnya dulu. Anak yang lahir pada tahun delapan puluhan, mengalami masa remajanya pada tahun sembilan puluhan. Pada tahun ini, keberadaan hiburan yang berupa televisi sudah mulai menjamur. Televisi yang tadinya hanya dimiliki oleh satu dua orang saja di sebuah desa, mulai ada hampir di setiap rumah. Gambar televisi yang tadinya hanya hitam putih, mulai memperlihatkan kemajuan. Berbagai warna ada di tampilan layar kotak bernama televisi tersebut. Berbagai stasiun televisi pun mulai mengembangkan sayapnya. Bersaing dengan satu-satunya stasiun milik pemerintah, stasiun televisi swasta pun tak mau kalah. Berbagai macam program acara mulai dihadirkan. Jika ada yang masih ingat dengan salah satu stasiun swasta bernama Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), berarti Anda benar-benar sudah ada di tahun sembilan puluhan. 

Masa remaja di tahun sembilan puluhan, dapat dikatakan penuh warna. Bukan hanya karena televisinya saja yang sudah berwarna. Salah satu warna kehidupan remaja di era ini adalah adanya komunikasi sesama remaja dengan menggunakan bahasa tulisan. Belum ada telepon seluler apalagi jaringan internet, pada masa itu. Bentuk komunikasi jarak jauh masih menggunakan surat. Surat dengan tulisan tangan, menggunakan kertas warna-warni yang berbau harum, dengan amplop yang tak kalah menariknya. Banyak remaja pada era ini yang kemudian jatuh hati dengan hobi filateli. Mengoleksi benda-benda pos, seperti perangko, kartu pos, blangko wesel, amplop seri, dan sebagainya. Saking hobinya dengan kegiatan ini ada yang sampai membawa koleksinya ke sekolah dan barter dengan teman-teman yang lainnya. Bahkan ada pula yang sampai menghabiskan uang ratusan ribu demi mendapatkan koleksi prangko langka. 

Dilihat dari segi transportasi. Saat anak-anak usia Sekolah Mengengah Pertama (SMP) sekarang ini pergi ke sekolah dengan mengendarai sepeda motor, walaupun harus membayar dua ribu rupiah setiap harinya karena harus parkir di luar sekolah. Saat itu tak ada satu pun anak khususnya yang masih berada di jenjang SMP pergi ke sekolah dengan naik sepeda motor. Sebagian besar naik sepeda, sebagian lagi memilih naik bus atau pun angkot, dan sebagian yang lainnya lagi  memilih jalan kaki. Selain karena memang tidak diperkenankan oleh pihak sekolah, sepeda motor adalah barang mewah bagi remaja tahun sembilan puluhan. 

Ada satu aturan yang masih teringat hingga kini. Pada tahun sembilan puluhan,  masih sangat jarang siswi yang mengenakan jilbab pada seragam sekolahnya. Merupakan sebuah perjuangan tersendiri saat ada seorang siswi yang bersekolah di lembaga milik pemerintah, memutuskan untuk mengenakan jilbab pada seragamnya. Ketatnya aturan mengenai pemakaian seragam, membuat beberapa siswi yang tadinya sudah berniat mengenakan jilbab menjadi urung. Terlebih saat ada sesi pemotretan untuk pas foto yang nantinya akan ditempel pada ijasah kelulusan, dalam foto tersebut mau tidak mau harus terlihat telinganya. Entah aturan ini berlaku secara nasional ataukan tidak, yang jelas tahun sembilan puluhan memang masih sangat jarang siswi beragama islam yang mengenakan jilbab pada seragam sekolahnya. 

Mengingat segala kejadian saat remaja di tahun sembilan puluhan, terkadang mampu menghadirkan sebuah senyuman di sudut bibir. Betapa bahagianya masa remaja yang belum terkontaminasi oleh banyaknya jaringan di sosial media. Masa remaja yang masih sangat menghargai betapa pentingnya berbicara secara langsung. Berhadapan muka atau setidaknya mengirimkan sebuah pesan melalui tulisan tangannya sendiri jika jaraknya memang jauh. Kenangan memang hanya sebuah masa lalu yang tak terulang. Setidakanya ada banyak hal yang dapat dijadikan sebagai sebuah pemaknaaan ataupun perbandingan dengan masa kini. 

9 komentar:

  1. akuuu mb, pake kerudung thn segitu pas foto ijazah harus ttd pernyataan bermaterai, dan aku dulu anggota filateli nganjuk

    BalasHapus
  2. akuuu mb, pake kerudung thn segitu pas foto ijazah harus ttd pernyataan bermaterai, dan aku dulu anggota filateli nganjuk

    BalasHapus
  3. Aku juga mba, mau foto ijazah dulu repot nian.. padahal sdh tahun 2000 kala itu.

    BalasHapus
  4. Aku kelahiran sembilan puluhan mbak... jdi masih kecil. Hehehe tapi sering kok berkumpul dengan anak sembilan puluhan contohnya maen sama kakakku.

    BalasHapus
  5. Aku kelahiran sembilan puluhan mbak... jdi masih kecil. Hehehe tapi sering kok berkumpul dengan anak sembilan puluhan contohnya maen sama kakakku.

    BalasHapus
  6. Wah pengalaman yang sama.
    Aku lahir 93 mbak Jun, lulus SMA 2011. Tapi waktu foto ijazah memang harus kelihatan telinganya. Mau pake jilbab gak dibolehin sama kepala sekolahnya.
    Sampe debat beberapa guru memebentuk dua kubu gara2 masalah foto ijazah ini.

    Apa sekarang peraturannya sudah boleh pakai jilbab ya ?

    BalasHapus
  7. Wah pengalaman yang sama.
    Aku lahir 93 mbak Jun, lulus SMA 2011. Tapi waktu foto ijazah memang harus kelihatan telinganya. Mau pake jilbab gak dibolehin sama kepala sekolahnya.
    Sampe debat beberapa guru memebentuk dua kubu gara2 masalah foto ijazah ini.

    Apa sekarang peraturannya sudah boleh pakai jilbab ya ?

    BalasHapus
  8. Mantaaap sekalii. Tahun 90an hehe

    BalasHapus
  9. Tahun 90an aku baru lahir mba Juni :D

    BalasHapus