21 Maret 2016

Tukang Foto Copi

Setiap pekerjaan memiliki arti tersendiri bagi para pekerjanya. Entah disukai atau tidak disukai, pekerjaan yang digeluti pasti memiliki kisahnya sendiri. Mulai dari jenis pekerjaan yang sering dianggap paling susah hingga pekerjaan yang dianggap paling enak.
Namun sejatinya setiap pekerjaan memiliki posisi yang sama, yakni sebagai jembatan bagi para pekerjanya untuk mendapatkan apa yang disebut sebagai upah. Dengan upah inilah para pekerja akan dapat memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarga yang ditanggungnya.

Jenis-jenis pekerjaan beragam rupanya. Ada jenis yang tidak memerlukan ijasah, ada pula jenis pekerjaan yang perlu menggunakan ijasah sebagai sarat utama untuk mendapatkannya. Tingkat pendidikan sampai saat ini memang masih sangat berpengaruh dalam menentukan jenis pekerjaan apa yang akan didapatkan. Terlepas dari keberadaan selembar kertas berharga yang disebut sebagai ijasah. Ada beberapa jenis pekerjaan yang tidak memerlukan ijasah tinggi, namun justru dapat menambah ilmu. Salah satunya adalah tukang foto copi.

Menjadi tukang foto copi tidak memerlukan syarat memiliki ijasah yang tinggi. Seorang lulusan Sekolah Dasar pun dapat mengerjakannya. Syarat utama untuk menjadi tukang foto copi hanyalah dapat membaca dan berhitung. Kenapa harus bisa membaca dan berhitung? Tukang foto copi harus bisa membaca setidaknya angka yang ada di mesin copi. Saat seorang pelanggan meminta dicopikan dokumen menjadi sepuluh, tukang foto copi harus dapat membaca angka yang harus dipencet dengan tepat. Dia juga harus dapat berhitung. Bagaimana pun juga pekerjaan ini berkaitan dengan hitung menghitung kertas, dan uang. Jumlah uang yang harus dibayarkan oleh pelanggan setelah mendapatkan layanan jasanya harus dapat dihitung dengan tepat.

Menjadi tukang foto copi sudah pasti menambah ilmu. Bahkan dari berbagai bidang keilmuan pun bisa didapatkan dengan gratis. Bagaimana mungkin? Tukang foto copi setidaknya akan mengenal berbagai istilah yang digunakan oleh pelanggannya. Contohnya demikian:
Mas, tolong saya dicopikan RPP ini. Pinta seorang Ibu Guru kepada tukang foto copi.
Kalimat permintaan ini, secara otomatis akan membawa kepada bertambahnya pengertian tukang foto copi bahwa apa yang akan dicopinya disebut sebagai RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang tadinya hanya menjadi ilmunya para guru.

Belum lagi jika yang menjadi pelanggannya adalah mahasiswa, dokter, pegawai pemerintah, dan sebagainya. Tentu saja akan ada banyak hal yang tadinya tidak diketahui sama sekali oleh si tukang foto copi menjadi terpaksa harus tahu.

4 komentar:

  1. Jadi bisa karena harus tau.
    Jadi mampu karena dituntut begitu.

    BalasHapus
  2. Jadi bisa karena harus tau.
    Jadi mampu karena dituntut begitu.

    BalasHapus
  3. semuanya butuh keahlian yaaa...apalgi ketika dituntut seperti itu..mau nggak mau jd hata bisa

    BalasHapus
  4. semuanya butuh keahlian yaaa...apalgi ketika dituntut seperti itu..mau nggak mau jd hata bisa

    BalasHapus