31 Maret 2016

Secuil Cerita di Senin Pagi

Matahari baru saja menanjak. Menaikkan lengkung-lengkung kemerahannya di balik rimbunan pohon. Sinarnya mulai menghangatkan bumi. Cerah. Tak ada mendung setitik pun yang menghalanginya. Anak-anak ayam mulai ribut mengitari induknya, meminta jatah makan. Jam di tembok dapur baru menunjukkan pukul enam lebih lima menit.


Segala rutinitas pagiku sebagai persiapan untuk menuju tempat kerja telah usai. Menyiapkan sarapan seadanya, yang penting ada dan cepat. Mesin cuci sudah hampir selesai mengerjakan tugasnya, membantu meringankan bebanku dalam mencuci baju. Segala keperluan pribadiku pun telah usai. Tinggal berpamitan, dan tancap gas menuju sekolahan tempatku lima tahun terakhir ini mengabdikan diri sebagai seorang guru.

"Ibu berangkat dulu ya." Pamitku kepada ketiga anakku yang baru menikmati sarapan paginya dengan telur ceplok. Mutia anak tertuaku mengulurkan tangannya, begitu pun Ifa anak keduaku. Namun ada yang berbeda dengan Hilman, anak bungsuku yang belum bisa berbicara dengan lancar. Tak biasanya anak satu setengah tahun ini menolak uluran tanganku saat aku akan berangkat kerja. Dia justru menaruk dengan manja seolah tak mau dilepaskan.
"Emoh,...emoh...." kata cedal yang terucap dari mulut mungilnya. Si kecilku lantas berlari ke arah bapaknya dan tak mau menatapku lagi. Dia memang kadang-kadang bertingkah lucu dan menggemaskan saat pagi seperti ini.

Senin ini aku berangkat agak kesiangan. Jam enam lebih lima belas menit baru dari rumah. Segera kupacu Supra biru kesayanganku. Hampir setiap hari senin aku tidak bisa mengikuti upacara bendera. Bukan karena enggan, saat tiba di sekolah seringnya upacara sudah selesai. Prinsipku sampai detik ini tetap sama, "Biar lambat asal selamat".

Hangatnya matahari pagi mulai kurasakan. Terasa enak di badan. Anak-anak sekolah mulai dari yang berseragam merah putih, hingga putih abu-abu mulai berseliweran di jalan. Satu dua berpapasan, selebihnya menyalipku dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Mungkin mereka mengejar waktu upacara. Senin pagi menjadikan jalanan super sibuk. Ini saja baru jalan desa, belum sampai ke jalan raya.

Belum terlalu jauh aku meninggalkan rumah, baru sekitar lima kilo meter.
"Braakkkk,......" suara keras karena sebuah benturan menggema di jalanan yang cukup lenggang. Kanan kiri jalan hanya ada area sawah yang baru selesai dipanen. Hanya ada sebuah rumah yang nampak, itu pun tigaratusan meter jaraknya dari asal suara.
"Gimana, Mbak.... ada yang luka nggak?" Aku mendengar sebuah suara dari seorang laki-laki yang terdengar asing. Sedetik dua detik, aku masih linglung. Belum sepenuhnya menyadari apa yang baru saja terjadi.
"Aduh, Mbak.... maaf....maaf banget ya. Itu ada darahnya. Aduh,... gimana Mbak....., Sampean rumahnya mana?" Peranyaan beruntun masih dari suara yang sama. Suaranya pun terdengar panik.

Perlu sekian detik untuk kusadari, motorku rubuh, aku terjatuh di atasnya. Sebuah sepeda motor lain berada di depanku dengan kondisi yang sama. Rubuh juga. Seorang laki-laki muda yang jika kutaksir baru berusia 25 tahunan. Dia nampak panik. Terasa nyeri di pipi kananku, dan ada cairan asin yang masuk ke mulut. Ah, rupanya aku baru saja bertabrakan dengan Mas di depanku yang mengendarai Vario ungu.

"Ada apa ini?" Tanya seorang bapak yang kebetulan lewat. Sepertinya akan mengantarkan anaknya ke sekolah di seberang selokan.
"Kok bisa begini, gimana kejadiannya, Mas? Padahal jalan lurus lho." Si bapak yang mengenakan kaos putih kembali bertanya. Kali ini lebih ditujukan kepada Mas pengendara Vario ungu. Si bapak bertanya sambil mendirikan motorku dan membantu Si Mas mendirikan Varionya.
"Sudah, selesaikan kekeluargaan saja. Saya tak ngantar anak ke sekolah dulu."Si bapak kembali berkata seraya meninggalkan kami berdua.

Beberapa pengendara motor pun menghentikan lajunya. Bertanya sebentar, lantas melanjutkan perjalanannya. Aku dari tadi berusaha menghubungi suamiku di rumah, lewat handphone. Lima, enam, tujuh kali tak ada jawaban. Beralih ke nomor adikku, sama tak ada jawaban. Sementara layar di hp ku mengindikasikan daya baterai tinggal 20 persen.
"Kalian pada kemana sih, saat genting begini hp tak ada yang nyahut." Runtukku di dalam hati. Kulihat Si mas Vario, begitu aku akhirnya menyebutnya, berkali-kali memegangi jari tangannya. Ah, rupanya dia kesakitan di bagian jari-jari tangannya. Sementara tangan kananku masih tetus berusaha memencet nomor hp suamiku. Tanganku yang satunya terus menekan luka sobek di bibir dengan kain penutup muka yang tadi kukenakan.

"Mbak, sampean rumahnya mana, sudah bisa dihubungi belum keluarganya?" Tanya seorang bapak berseragam kheki.
"Saya Klisat, pak. Ini belum nyahut dari tadi. Masnya juga belum bisa hubungi keluarganya." Jawabku sambil menahan perih, dan rasa yang tak karuan di kepala.
"Gini aja Mbak, saya tak ke rumah mbak saja.Tak panggilkan suaminya."Si bapak berseragam kheki tadi menawarkan kebaikannya. Lantas Dia pun bertanya tentang nama suami ku dan ancer-ancer rumahku. Lokasi tabrakan yang baru berada di utara desa membuat lebih mudah untuk mencari keluargaku. Si bapak itu pun menawarkan untuk sekalian mencarikan keluarganya Mas Vario. Namun sebelum berangkat, ternyata Mas Vario sudah berhasil menghubungi isterinya.

Dari penuturannya, Dia pun bercerita sembari berkali-kali minta maaf padaku. Rupanya Dia baru pulang kerja shift malam, dan mengaku mengantuk. Berusaha menghindari lubang di jalan, tapu malah menabrak aku yang muncul dari arah berlawanan. Mas Vario ini adalah tetangga desaku. Anak menantunya Pak Jawari, suaminya Deby.
"Oalah,.... sampean ki ternyata suaminya Deby to?" Tanyaku untuk meyakinkan apa yang kudengar. Walaupun nyeri di bibirku kian terasa, aku masih bisa berbicara pelan. Deby adalah teman seperjuanganku sewaktu masih sama-sama mengurusi organisasi remaja dan pemuda masjid dari tujuh desa. Aku kenal Deby, walaupun tidak terlalu akrab. Orang tua Deby sendiri juga masih ada silsilah saudara dengan keluarga suamiku.

Sepuluh menit kemudian, Pak Jawari ayah Mas Vario datang bersama seorang laki-laki yang belum ku kenal, mungkin tetangganya. Tidak berapa lama muncul suami berboncengan dengan adik iparku. Sejenak saling menyapa, lantas saling bertanya kondisi kami.

Motorku maupun motornya sama-sama remuk pada bagian depannya. Menilik kondisi motornya yang demikian, Baik aku maupun Mas Vario justru sangat bersyukur karena tidak ada luka yang cukup serius. Pak Jawari pun membawa kami ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan pertama. Berhubung kami masih tetangga dekat, sekaligus masih ada urutan saudara. Maka kami pun sepakat untuk mengurus segalanya sendiri-sendiri. Walaupun begitu Mas Vario masih saja minta maaf padaku saat aku pamit pulang lebih dahulu dari rumah sakit.

4 komentar:

  1. Semoga cepat pulih mba. Dede tahu banget ada sesuatu hal dengan ibunya

    BalasHapus
  2. Masih keluargaan semua, moga cepet pulih dan baikan mba..

    BalasHapus
  3. oalah gitu tovmb ceritanya, cepet sehat ya mb

    BalasHapus
  4. Own gitu mb ceritanya mb. Cepat pulih ya mb. Mmg hukum dijalan, ditabrak Dan menabrak

    BalasHapus